Bencana banjir melanda Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah pada hari Selasa (11 Maret 2025) pukul 14.00 WITA, akibat hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut selama lebih dari tiga jam. Peristiwa hidrometeorologi ini menyebabkan luapan air dari beberapa anak sungai dan saluran drainase utama, mengakibatkan puluhan unit rumah warga di sejumlah desa mengalami genangan dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 80 centimeter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Poso bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) langsung melakukan mobilisasi ke lokasi kejadian untuk melakukan asesmen dampak dan koordinasi tanggap darurat.
Asesmen Dampak dan Respons Tanggap Darurat
Berdasarkan laporan awal dari BPBD Kabupaten Poso, sebanyak 47 unit rumah di tiga desa terdampak, yaitu Desa Masewe, Desa Toyado, dan Desa Kasiguncu. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa dalam kejadian ini, namun sebanyak 32 kepala keluarga dengan total 128 jiwa terpaksa mengungsi sementara ke rumah sanak saudara atau lokasi yang lebih tinggi. Kronologi kejadian dapat diuraikan sebagai berikut:
- Pukul 14.00 - 17.15 WITA: Hujan lebat dengan intensitas tinggi mengguyur Kecamatan Pamona Utara
- Pukul 17.30 WITA: Air mulai meluap dari Sungai Masewe dan Sungai Kasiguncu
- Pukul 18.00 WITA: Genangan air mulai memasuki permukiman warga dengan ketinggian 20-30 cm
- Pukul 19.15 WITA: Ketinggian air mencapai puncaknya di 50-80 cm di beberapa titik permukiman
- Pukul 21.00 WITA: Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, dan relawan tiba di lokasi untuk evakuasi dan pendistribusian bantuan
Respons tanggap darurat telah dilakukan dengan pendirian satu posko komando di Kantor Desa Masewe yang berfungsi sebagai pusat koordinasi. Bantuan logistik darurat yang telah didistribusikan meliputi:
- 150 paket makanan siap saji
- 200 liter air bersih dalam kemasan galon
- 80 lembar selimut
- 45 lembar terpal
- Paket kebersihan dasar (sabun, sikat gigi, pasta gigi) untuk 50 keluarga
Analisis Kerentanan Wilayah dan Faktor Pemicu
Kejadian bencana banjir di Pamona Utara, Poso ini mengindikasikan tingkat kerentanan hidrometeorologi yang signifikan di wilayah tersebut. Analisis awal mengidentifikasi tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap genangan air yang meluas:
- Faktor Geografis dan Topografis: Lokasi permukiman di bantaran sungai dengan kemiringan lereng yang curam menyebabkan air hujan terkonsentrasi dengan cepat ke daerah hilir
- Faktor Infrastruktur: Kapasitas saluran drainase yang tidak memadai dan adanya sedimentasi di beberapa titik sungai mengurangi kemampuan penampungan air
- Faktor Lingkungan: Perubahan penggunaan lahan di hulu sungai yang mengurangi daerah resapan air
Data historis dari BPBD Kabupaten Poso mencatat bahwa wilayah Pamona Utara telah mengalami lima kali kejadian banjir dengan skala menengah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Pola kejadian ini menunjukkan perlunya pendekatan pengurangan risiko bencana yang lebih sistematis dan terintegrasi dengan rencana pembangunan wilayah.
Koordinasi antarinstansi di tingkat daerah telah berjalan dengan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Poso untuk mengevaluasi kondisi infrastruktur pengendali banjir. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup tengah mengkaji dampak perubahan tutupan lahan terhadap kapasitas resapan air di daerah tangkapan hujan.
Rekomendasi Strategis untuk Pemerintah Daerah
Berdasarkan asesmen dampak dan analisis kerentanan, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan oleh Pemerintah Kabupaten Poso untuk mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang:
- Percepatan Normalisasi Sungai: Melakukan pengerukan dan pembersihan sedimentasi secara berkala di Sungai Masewe dan Sungai Kasiguncu, khususnya di segmen yang melintasi kawasan permukiman
- Revitalisasi Sistem Drainase: Perluasan kapasitas saluran drainase utama di tiga desa terdampak dengan mempertimbangkan data intensitas curah hujan maksimal dalam 10 tahun terakhir
- Penguatan Sistem Peringatan Dini: Instalasi alat pemantau ketinggian air sungai (water level recorder) di tiga titik strategis dengan sistem notifikasi langsung ke BPBD dan perangkat desa
- Pemberdayaan Masyarakat: Intensifikasi program Desa Tangguh Bencana dengan fokus pada pelatihan kesiapsiagaan banjir dan pembentukan tim siaga bencana di tingkat RT/RW
- Integrasi Rencana Tata Ruang: Peninjauan ulang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Pamona Utara dengan memasukkan analisis risiko banjir sebagai acuan penetapan zona permukiman aman
Kejadian rumah terendam di Pamona Utara ini menjadi pengingat pentingnya pendekatan pengelolaan risiko bencana yang proaktif dan berbasis data. Pemerintah daerah didorong untuk mengalokasikan anggaran khusus dalam APBD 2025 untuk program pengurangan risiko bencana hidrometeorologi, sekaligus memperkuat sinergi dengan pemerintah provinsi dalam kerangka program Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat (PRBBM).