Banjir bandang akibat meluapnya Sungai Rongkong menerjang tiga kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Kamis pagi. Peristiwa ini dilaporkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara yang mencatatkan dampak signifikan terhadap permukiman warga dan infrastruktur wilayah. Kecamatan yang terdampak meliputi Masamba, Bone-Bone, dan Sabbang, dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter di area pemukiman. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan relawan segera melakukan evakuasi terpadu untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian materiel.
Dampak Bencana dan Langkah Evakuasi
Berdasarkan data sementara dari BPBD Luwu Utara, sebanyak 500 unit rumah terendam banjir, dan 1.200 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dua orang dilaporkan hilang akibat terseret arus deras, sehingga tim gabungan menerjunkan perahu karet untuk proses pencarian dan evakuasi. Akses jalan utama antar kecamatan terputus di beberapa titik akibat longsor dan genangan air setinggi lebih dari satu meter. Untuk mendukung kebutuhan dasar pengungsi, pemerintah daerah mendirikan dapur umum di tiga lokasi pengungsian yang tersebar di wilayah terdampak.
- Wilayah Terdampak: Kecamatan Masamba, Bone-Bone, dan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.
- Dampak Infrastruktur: 500 rumah terendam, akses jalan utama terputus di beberapa titik akibat longsor dan genangan.
- Korban dan Evakuasi: 1.200 jiwa mengungsi, 2 orang hilang, proses evakuasi menggunakan perahu karet oleh TNI, Polri, dan relawan.
- Status Tanggap Darurat: Ditetapkan oleh Bupati Luwu Utara selama 14 hari, dengan dukungan dapur umum di 3 lokasi pengungsian.
Bupati Luwu Utara segera menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari guna mempercepat penanganan bencana banjir bandang ini. Langkah ini memungkinkan mobilisasi sumber daya secara optimal, termasuk pendirian dapur umum di tiga titik pengungsian. Tim gabungan dari TNI, Polri, serta relawan terus melakukan evakuasi dan pendataan warga yang masih terjebak di permukiman terisolasi. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa lebih lanjut, namun upaya pencarian dua warga yang hilang terus diperketat.
Faktor Penyebab dan Catatan Strategis bagi Pemerintah Daerah
Banjir bandang di Luwu Utara dipicu oleh meluapnya Sungai Rongkong akibat hujan deras yang mengguyur wilayah hulu selama tiga hari terakhir. Deforestasi di kawasan hulu sungai diduga menjadi faktor utama meningkatnya debit air secara drastis saat curah hujan tinggi. Kondisi ini menegaskan pentingnya pengelolaan tata ruang dan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Luwu Utara guna mencegah bencana serupa di masa mendatang. Pemerintah daerah perlu mengevaluasi kebijakan izin usaha kehutanan dan perkebunan di wilayah resapan air, serta memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas di tiga kecamatan rawan banjir. Kerja sama lintas sektoral antara BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, dan Dinas Lingkungan Hidup sangat diperlukan untuk menyusun rencana mitigasi jangka panjang yang terintegrasi. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti tanggul dan embung harus menjadi prioritas dalam anggaran daerah tahun mendatang. Langkah konkret ini akan mengurangi risiko bencana serupa dan melindungi ribuan jiwa yang tinggal di bantaran Sungai Rongkong.