SWARA TERITORI – Curah hujan tinggi yang berlangsung intens sejak sore hingga malam hari menyebabkan bencana hidrometeorologi di Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, pada Selasa (13/05/26). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Datar mencatat banjir dan tanah longsor melanda empat nagari, dengan korban terdampak mencapai ratusan jiwa dan memerlukan proses evakuasi darurat oleh tim gabungan.
Pemetaan Kerusakan dan Titik Rawan di Empat Nagari
Berdasarkan laporan BPBD Tanah Datar hingga Rabu (14/05/26) siang, terdapat empat wilayah administratif nagari yang mengalami dampak terparah dari bencana tersebut. Kalaksa BPBD Tanah Datar, dr. Ermon Revlin, mengkonfirmasi bahwa keempat nagari tersebut adalah Padang Ganting, Saruaso, Taluak, dan Koto Tangah. Analisis awal menunjukkan variasi dampak dan indikator kerawanan di tiap lokasi.
- Nagari Padang Ganting: Dilaporkan terjadi luapan Batang Sungai Pagie disertai tiga titik tanah longsor di ruas jalan, yaitu dua titik di Jalan Bukit Putuih dan satu titik di Jorong Koto Gadang Hilir. Sebanyak enam rumah warga di kawasan Simpang Kubu terdampak banjir.
- Nagari Saruaso: Bencana menyebabkan puluhan rumah dan kedai terendam dengan distribusi kerawanan yang tersebar. Di Jorong Saruaso Timur, delapan warga dievakuasi dengan 18 rumah dan satu kedai terdampak. Sementara di Jorong Saruaso Utara, 13 rumah dan satu kedai terdampak, serta 23 kepala keluarga (sekitar 60 jiwa) terisolasi, terdiri dari kelompok rentan 15 lansia, satu ibu hamil, serta balita dan bayi. Kondisi serupa juga dilaporkan di Jorong Saruaso Barat dan Jorong Kubang Landai.
- Nagari Taluak: Di kawasan Setangkai, satu rumah makan terendam dan sebanyak 12 kepala keluarga dengan total 51 jiwa terpaksa diungsikan dari lokasi terdampak.
- Nagari Koto Tangah: Informasi detail mengenai titik terdampak masih dalam pendataan intensif oleh tim BPBD Tanah Datar.
Respon Terpadu dan Penanganan Darurat oleh Tim Gabungan
Menanggapi eskalasi bencana, BPBD Kabupaten Tanah Datar bersama tim gabungan yang terdiri dari BASARNAS, TNI, Polri, satgas nagari, dan relawan segera melakukan mobilisasi ke lokasi kejadian. Operasi terpadu ini difokuskan pada dua aspek utama: penyelamatan dan evakuasi warga terdampak secara langsung, serta pendataan komprehensif wilayah terdampak untuk menentukan skala prioritas penanganan. Evakuasi juga diperluas kepada warga yang masih berada di kawasan yang dikategorikan rawan, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan bencana susulan.
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melalui BPBD telah mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan, terutama bagi warga yang berdomisili di daerah rawan longsor dan di sepanjang bantaran sungai. Aktivitas warga di sekitar lokasi terdampak juga diminta untuk dibatasi hanya untuk keperluan mendesak guna meminimalisir risiko kecelakaan dan mempermudah proses penanganan darurat.
Kejadian ini menggarisbawahi pentingnya pemetaan kerawanan wilayah yang lebih dinamis dan responsif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Datar perlu mempertimbangkan untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis masyarakat di nagari-nagari yang rawan, meningkatkan kapasitas drainase dan pengendalian aliran sungai, serta mengintegrasikan data titik rawan bencana ke dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur daerah secara berkelanjutan.